Rabu, 02 Februari 2011

SEJARAH PERADABAN ISLAM MASA ABBASIYAH

SEJARAH PERADABAN ISLAM
MASA ABBASIYAH

Oleh : Safrudin, S.Sos.I

I.             Pendahuluan
Islam yang diwahyukan kepada nabi Muhamad SAW. Telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal dan diabaikan bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang maju. Ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia, membina satu peradaban dan kebudayaan yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang. Bahkan kemajuan barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol. H.A.R Gibb mengatakan di dalam bukunya Wither islam, “Islam is need much more than a system of theology, it is complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna)”.
Jatuhnya Daulah Umayah pada tahun 750 M dan bangkitnya Daulah Abasiyyah telah menarik perhatian banyak sejarawan Islam klasik. Para sejarawan melihat bahwa kejadian itu unik, karena bukan saja merupakan pergantian dinasti tetapi lebih dari itu adalah pergantian struktur sosial dan ideology, maka banyak sejarawan yang menilai bahwa kebangkitan daulah abasiyyah merupakan suatu refolusi dalam artian kata sebenarnya. (Atho Mudzhar : 1998 : 86)
Sejarah mencatat bahwa bangkitnya kebudayaan dan peradaban Islam terjadi pada masa daulah abasyiyyah. Pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat, tak tertandingi. Harun al rasyid tidak diragukan lagi merupakan raja yang paling berkuasa dan mencerminkan kebudayaan yang lebih tinggi. (Sayed Mahmudunnasir : 1994 : 259)
Al makmun, pengganti al rasyid dikenal sebagai kholifah yang sangat mencintai ilmu. Pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-buku asing sangat digalakkan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. (1997 : 53)
Dalam makalah ini penulis mencoba mengungkapkan sekelumit tentang bengkitnya peradaban dan kebudayaan Islam pada masa Abasyiyyah. Untuk itu, pembahasan ini penulis batasi di sekitar sejarah daulah abasyiyah dan kebangkitan peradaban islam pada masa abasyiyyah.
Sumbang saran dan masukan dari pembimbing serta teman-teman sangat membantu demi penyempurnaan makalah ini, semoga ada manfaatnya.

II.          Sejarah Daulah Abasyiyyah
Daulah abasyiyah merupakan keturunan daru al Abbas, paman Nabi SAW. Didirikan oleh Abdullah as Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW. Agar jabatan khalifah diserahkan kpd saudara Rasul dan keluarganya. Tetapi ide ini telah dikalahkan di zaman perulaan Islam, dimana pemikiran Islam yang sehat menetapkan bahwa jabatan khalifah adalah milik seluruh kaum muslimin. Mereka berhak melantik siapa saja di antara mereka untuk menjadi ketua setelah mendapat dukungan. (A. Syalabi : 1993 : 1)
Bani Abasyiah mewarisi imperium besar dar bani umayyah. Mereka memungkinkan dapat mencapaihasil lebih banyak karena landasannya telah dipersiapkan oleh bani umayyah. Oleh abbasyiah ini di dalam kepemimpinan masyarakat islam, suatu titik balik yang sama pentingnya dengan revolusi Prncis dan revolusi Rusia di dalam sejarah barat. (Sayed Mahmudunnasir : 1994 : 246)
Kekuasaan bani abbasyiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H. (750 M) sampai dengan 656 H (1258 M) selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbasyiyyah menjadi lima periode.
1.            Periode pertama (132 H/750 M – 232 H / 847 M). disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.            Periode kedua (232 H / 847 M – 334 H / 945 M) disebut masa pengaruh Turki pertama.
3.            Periode ketiga (334 H / 945 M – 447 H / 1055 M) masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasyiah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia dua.
4.            Periode keempat (447 H / 1055 M - 590 H / 1195 M) masa kekuasaan bani saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasyiah, biasanya disebut dinasti turki kedua.
5.            Periode kelima (590 H / 1195 M – 656 H / 1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad. (Badri : 1997 : 49-50)
Pemaparan periodisasi ini penting karena sikap peride terjadi pergantian khalifah-khalifah yang berarti juga perubahan pola dan corak kepemerintahan, disamping terjadinya perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam.

III.       Peradaban Kebudayaan Islam pada masa Abbasiyah
Pada Periode Pertama Pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasan. Secara politis para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam.
Timbul suatu pertanyaan, mengapa peradaban dan kebudayaan islanm tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa abbasyiyyah. Hal tersebut dikarenakan dinasti abbasyiyyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam dari pada perluasan wilayah. Disinilah letak perbedaan pokok antara bani abbas dan bani umayyah. Akan tetapi tidak berarti seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa bani abbas sendiri. Sebagian diantaranya telah dimulai sejak awal kebangkitan islam, sebagai contoh bahwa dalam bidang pendidikan di awal islam lembaga pendidikan sedah mulai berkembang.
A.    Baghdad Sebagai Pusat Peradaban Islam
Pada mulanya ibu kota Negara adalah al hasyimiyyah dekat Kuffah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas Negara yang baru berdiri itu, al mansyur memindahkan ibu kota Negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, cleshipoa, tahun 762 M.
Baghdad terletak di dekat sungai Tigris, al mansyur sangat cermat dan teliti dalam memilih lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk memilih dan mempelajari lokasi. Bahkan ada beberapa orang diantara mereka yang diperintahkan beberapa hari tinggal di tempat itu pada setiap musim yang berbeda. Kemudian para ahli tersebut melaporkan kepadanya tentang keadaan udara, tanah dan lngkungan setelah penelitian seksama, daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota.
Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam islam. Itulah sebabnya Philip K Hinti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya Baghdad merupakan professor masyarakat islam (Badri Yatim : 1997 : 185).
Untuk membatasi pembahan makalah ini maka penulis disini hanya akan memaparkan beberapa khalifah pada masa bani abbasyiah yang berperan dalam proses bangkitnya peradaban dan kebudayaan Islam.
Masa pemerintahan abu al abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu sejak tahun 750 M sampai 754 M. karena itu, Pembina sebenarnya dari Daulah Abbasyiyyah adalah abu ja’far al mansyur (754-775). Pada masa pemerintahan inilah terjadi perubahan dan perkembangan yang sangat berarti, baik dalam masalah politik maupun ilmu pengetahuan.
Ada beberapa hal yang patut dicatat pada masa pemerintahan al-mansyur. Diantaranya : dalam bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi barudengan mengangkat wazir sebagai coordinator departemen. Dia juga membentuk lembaga protokoler Negara, sekretaris Negara dan kepolisian Negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Jawatan pos yang sudah ada sejak zaman bani umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar mengantar surat, pada masa al mansyur jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancer. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
Peletak dasar perekonomian yang kuat adalah al mahdi. Yakni khalifah abbasyiah ke tujuh (775-785). Dengan cara meningkatkan sector pertanian melaui irigasi serta peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Pada masa ini pula wilayahnya menjadi tempat trnsit perdagangan antara timur dan barat sehingga vbanyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi tempat pelabuhan yang penting.
Pepularitas Daulah Abbasyiyyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah harun al rasyid (786-809) dan putranya al makmun (813-833). Kjekayaan harun al rasyid banyak digunakan untuk keperluan sosial rumah sakit, lembaga pendidikan, kedokteran dan farmasi didirikan. Pada masanya terdapat 800 dokter. Tingkat keakmuran yang paling tinggi terwujud pada masa khalifah ni. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan brada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya. Sebagai Negara terkuat tak tertandingi (1997 : 52-53)
Al makmun pengganti al rasyid dikenal sebagai khalifah yang cinta kpd ilmu. Pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Kegiatan ilmiah pada zaman ini terbagi dalam tiga lapangan.
1.      Kegiatan menyusun buku-buku ilmiah
2.      Mengatur ilmu-ilmu islam
3.      Menerjemahkan karya-karya berbahasa asing. (SyalabY : 1993 : 186)
untuk menrjemahkan buku-buku yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah. Salah satu karya besarnya yang penting ialah Bait Al Hikamah. Pusat penerjemahan yang besar. Pada masa al makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan (Badri Yatim : 1997 : 53)
Profesor Nicholson telah menggambarkan kegiatan ilmiah di dunia islam dengan begitu cepat dan kita memetik sebagian dari padanya sebagai permulaan kebangkitan kebudayaan di zaman abbasyiah pertama itu. Menurut Nicholson sejumlah besar para penyelidik dan penuntut ilmu pengetahuan dari kalangan muslimin dengan penuh semangat mengembra ke tengah-tengah 3 benua yaitu dunia yang pada masa itu terkenal. Kemudian kembali ke negri masing-masing persis seperti kembalinya lebah-lebah yang membawa madu yang membangitkan selera. Selanjutnya ia mengatakan bahwa zaman pemerintahan abbasyiah pertama itu merupakan zaman paling sesuai untuk kebangkitan kebudayaan (1993 : 185)
Menarik untuk dibahas mengenai kbangkitan ilmu pengetahuan pada masa ini yang prosesnya melalui beberapa tingkatan sebagaimana dikatakan Prof, Syalaby.
Pertama, mengenai penyusunan buku-buku ilmiah yang dilakukan dengan cara yang amat sederhana yakni mencatat ide atau percakapan pada suatu kertas. Tahap berikutnya adalah pembukuan ide-ide dan pembukuan hadis-hadis, cerita, sejarah dan lain sebagainya.
Pada tahap ketiga ialah penyusunan yang merupakan lebih halus dari pada kerja pembukuan, pada tahap ini, semua yang telah dicatat, kemudian diatur dan disusun dalam bagian-bagian dan bab-bab tertentu.artinya, dalam penyusunan buku ini sudah diklasifikasikan mengenai pokok pembahasan suatu buku. Bab-bab dan bagian-bagian dan seterusnya. Diantara penyusun yang terkemuka di zaman tersebut ialah Imam malik yang menyusun buku al muwwatha’, ibnu ishak yang menyusun buku tentang sejarah hidup nabi Muhammad SAW dan abu hanifah menyusun fiqh dan pendapat ijtihad. Khalifah abu ja’far al manshur dikatakan telah memainkan peranan penting dalam mengarahkan para ulama’ di bidang ini. (Syalabi : 1993 : 187)
Setelah masa al manshur, kota Baghdad menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan islam, banyak para ilmuwan dari berbagai wilayah datang ke kota itu untuk mendalami ilmu pengetahuan yang ingin didalaminya. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada masa khalifah harun al rasyid (786-809) dan anaknya al makmun (813-833). Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradaban islam ke seluruh dunia, prestise politik, supremasi ekonomi, dan aktifitas intelektual merupakan 3 keistimewaan kota ini. Kebesarannya tidak terbatas pada negri arab, tetapi meliputi seluruh negri islam.
Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat yang dulunya dipandang sudah mati, dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa arab.
Di samping itu banyak berdiri akademi, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi kota. Dua diantaranya yang terpentingadl perguruan Nazhamiyyah yang didirikan oleh nizham al mulk, wazir sultan Seljuk pada abad ke 5 H.dan perguruan mustansyiriyyah didirikan oleh kholifah al mustanshir billah (badri Yatim : 1997 : 279)
Dalam bidang sastra, kota Baghdad terkenal dengan hasil karya yang indah dan digemari org. diantara karya sastra yang terkenal adalah alf lailah wa lailah, atau kitab seribu satu malam.
Di kota Baghdad ini lahir dan muncul para saintis, ulama’ filosof, dan sastrawan yang terkenal seperti al khawarizm (ahli astronomi dan matematika, penemu ilmu al jabar). Al kindi (filosof arab pertama), al razi (filosof, ahli fisika dan kedokteran), al farabi (filosof besar yang dijuluki dengan al mu’alim al tsani, guru kedua setelah aristoteles)
Diantara kebanggaan pemerintahan abbasyiah pertama ialah terdapatnya empat imam fiqh yang ulung ketika itu. Mereka adalah imam abu hanifah (150 H), imam Malik (179 H), imam Syafi’I (204) dan imam ahmad bin manbal (241). Keempat imam tersebutmerupakan ulama’ fiqh yang paling agungdan tiada tandingannya di dunia islam. Madzhab-madzhab fiqh mereka adalah yang paling masyhur dan paling luas penyebarannya sampai sekarang ini (1993 : 191). Pada zaman ini pula   telah melahirkan ilmu tafsir al-qur’an dan pemisahannya dari ilmu hadits.
Mengenai kelahiran ilmu tafsir, ternyata sebelum zaman tersebut tidak terdapat penafsiran seluruh al-qur’an dan tidak jugs sebagaiannya secara teratur dan tersusun sebaliknyya yang ada adalah tafsir sebagian ayat dari berbagai surat, dan dibuat untuk tujuan tertentu atau karena banyak berselisih pendapat mengenai maknanya.
Tafsir al fara’ merupakan tafsir pertama kali tersusun menurut susunan ayat al-qur’an, serta sebagai perintis jalan kpd penafsir yang lahir sesudahnya. Sehingga muncul al tabari yang menghimpun di dalam tafsirnya semua keistimewaan yang terdapat di dalam karya-karya tafsir yang dibuat oleh tokoh-tokoh sebelumnya.
Aktifitas ilmiah yang tidak kalah pentingnya adalah penerjemahan buku-buku berbahasa asing seperti karya yang berbahasa sanksekerta, suriani dan yanuani pada tahun 762 M. khalifah al manshur telah meletakkan batu pertama bagi pengembangan kota Baghdad dan telah menghimpun golongan cerdik pandai di berbagai lapangan serta menggalakkan pnerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan sastra sari bahsa lain ke bahasa arab. Diantara mereka yang terkemuka adalah Abdullah bin muqaffa (757). Seorang majusi yang kemudian menjdi muslim. Salah satu karya terjemahannya yang terkenal adalah kalilah wa dummah. Dari bhs sanksekerta diterjemahkan ke dalam bahasa parsi. Diantara penerjemah yang terkenal lainnya adalah bhaktisyu bin juris (810). Gibril muridnya (809), Al Hajjaj bin matar (833) orang yang pertama kali menerjemahkan buku element karya enclide, dan org pertama yang mnerjemahkan hasil karya ptolemi, yahya bin khalid al barmaki menerjemahkan hasil karya sebagian dari Illaird karya Homer, abu yahya bin batrik (806) menerjemahkan buku Hippocrates (536 SM) dan Galen (200 M). (1993 : 201)
Dalam kegiatan menerjemahkan perlu dicatat bahwa hal-hal sebagai berikut : pertama, bahwa kaum muslimin bukan saja sebagai penerjemah tetapi juga  mencipta dan membuat pembaharuan di dalam topic-topik yang dipindahkan ke bahasa arab itu. Mereka telah menguraikan serta membuat keterangan dan ulasan yang sangat bernilai dan besar artinya.
Kedua, kaum muslimin telah memainkan peranan yang sangat besar di dalam mengembangkan bakti kepada peradaban dunia. Mereka telah meyelamatkan ilmu-ilmu itu dari kebinasaan, yang pasti karena mereka telah menerima buku-buku tersebut di zaman-zaman gelap dan memberikan nafas baru. (1993 : 203-204)
B.     Jatuhmya Abbasiyyah Mundurnya Peradaban Islam
Kebesaran , keagungan, kemegahan dan gemerlapnya Baghdad sebagai pusat perintahan Daulah Abbasyiyyah seolah-olah hanyut di bawa sungai Tigris, setelah kota itu dibumihanguskan oleh tentara mongol di bawah pimpinan Hulaqu Khan pada tahun 1258 M. seua bangunan kota, termasuk istana emas tersebut dihancurkan. Pasukan mongol itu juga meruntuhkan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu dan membakar buku-buku yang ada di dlmnya. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Tiur Lenk dan tahun 1508 M oleh tentara kerajaan safawi (badri yatim : 1997 )
Sejak hancurnya kerajaan abbasyiyah, maka seakan-akan merupakan akhir dari kejayaan peradaban Islam. Hal ini dapat dilihat bahwa setelah kerajaan abbasyiyah hancur maka tidak lagi muncul kerajaan yang menyamai kebesarannya dan sebagaimana dikatakan dalam sejarah bahwa kejayaan peradaban manusia berpindah ke eropa atau barat melalui Spanyol.

IV.       Penutup/Kesimpulan
Dari beberapa uraian mengenai abad kebangkitan peradaban dan kebudayaan islam (yang sangat simple) maka dapat disimpulkan sebagai berikut : :
Bahwa sejarah mencatat kebangkitan peradaban dan kebudayaan islam terjadi pada Daulah Abbasyiyyah, pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara kuat tak tertandingi. Harun al rasyid merupakan raja yang paling berkuasa dan mencerminkan kebudayaan yang lebih tinggi. Ia digantikan anaknya al makmun dikenal sebagai orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, pada masa pemerintahannya, penuisan buku-buku dan pnerjemahan karya-karya berbahasa asing  sangat digalakkan sehingga Baghdad bagaikan kta ilmu.
Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada masa keemasannya.
Pada masa abbasyiyyah inilah lahir para fuqoha, mufasir, filosof dan ahli tarekat (sufi) dan ilmuwan ulung yang membuka cakrawala dunia seperti al farabi, al kindi, al ghazali, al razi dan sebagainya.
Paradaban dan kemajuan islam seakan-akan lenyap dari muka bumi sejalan dengan hancurnya kekuasaan abbasyiyyah, peradaban baru muncul dari eropa/barat. Kemudian duniapun berkiblat kepadanya. Mungkinkan kejayaan peradaban islam akan berulang atau kembali ketika seperti zaman abbasyiyyah ? Walahu a’lam.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. H.M. Atho’ Mudzhar, Pendekatan Studi Islam, dalam Teori dan Praktek, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998
Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Pustaka al Husna, Jakarta, 1993
Drs. Badri Yatim, M.A. Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997
Sayed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Remaja Raasda Karya, Bandung, 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar