Rabu, 02 Februari 2011

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MODERN DI MESIR

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN
PENDIDIKAN ISLAM MODERN DI MESIR
Oleh : Safrudin, S.Sos.I


I.             PENDAHULUAN
Kejatuhan Baghdad di tangan Hulaqu Khan pada tahun 1258 M, membawa dampak negative, tidak saja pada tatanan politik di dunia Islam, tetapi juga pada perkembangan intelektual umat Islam yang telah dibina berabad-abad. Dari segi sosial politik, dampak tersebut tercermin dalam hancurnya khilafah yang merupakan lambing kekuasaan poitik dan symbol kesatuan dunia Islam, serta tampilnya suku/bangsa Mongol non muslim ke permukaan menggantikan bangsa Arab dan Persia mengendalikan pemerintahan di wilayah dan bekas pesat kekuasaan Islam.
Di bidang intelektual, kemunduran yang telah dimulai dari masa sebelumnya menyebar semakin luas. Kedinamisan berfikir serta semangat penelitian semakin hilang dan cahaya ilmu pengetahuan yang menyinari dunia Islam beberapa abad kamudian hamper padam sama sekali.[1]
Refleksi dari keunduran intelektual tersebut antara lain tampak dl dua hal, yaitu tertanamnya sikap taqlid pada madzhab fiqh dan terjadinya penyimpangan akidah dalam berbagai bentuk.
Taqlid muncul sebagai suatu gejala ketika hasil ijtihad para imam mujtahid ibukukan dan terbentuk sebagai madzhab fiqh. Gejala tersebut semakin jelas dengan terpusatnya intelektual para ulama’ ygsesudahnya dl mempelajari hasil pemikiran dan ijtihad imam mujtahid tertentu dengan membuat khtisar, syarah dan sebagainya dengan tidak menyimpang dari pendapat ujtahid yang diikuti.
Periode selanjutnya tidak lagi mencerminkan adanya kegiatan intelektual, tetapi hasil-hasil ijtihad dari para mujtahid tersebut telah diterima sebagai suatu kebenaran yang bersifat absolute dan mutlak, kekal dan tidak boleh dirubah, dan dengan tidak mempermasalahkan alas an ataupun dalil yang mendasari suatu pendapat mereka.[2]
Mulailah umat Islam terperosok ke dalam jurang taqlid yang kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap generasi menambahkan ke dalam ijtihad ulama’ sebelumnya hal-hal yang sebenarnya bukan hasil ijtihad, sehingga umat Islam dari abad kea bad semakin jauh dari ajaran Islam yang murni. Meskipun pada abad-abad tertentu tampil beberapa mujtahid yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam kepada dasarnya Al Qur’an dan Hadits. Namun taqlid yang telah lebih dahulu tertanam dan menjalar ke seluruh dunia Isla tidak terbendung oleh usaha yang mereka lakukan.
Dengan berkembangnya taqlid, Al Qur’an dan Hadits tidak lagi dijadikan sebagai rujukan dalam menjawab peristiwa yang terjadi pada masyarakat, pendapat para imam madzhablah yang lebih berperan, lebih-lebih karena kitab-kitab fiqh yang tersdia telah menyuguhkan jawaban dari berbagai masalah, bahkan yang bersifat pengandaian pun juga ada. Dengan demikian kreatifitas akal menjadi terhenti dan kemujjudan berfikir kian merata di seluruh dunia Islam.
Refleksi kedua kemunduran umat Islam tampak dengan terjadinya berbagai penyimpangan akidah yang antara lain tumbuh melalui organisasi tarekat yang berkembang dalam dunia Islam. Tarekat sebagai salah satu orde sufisme setelah abadke dua belas masehi menurun kualitasnya disebab kanmasuknya unsure-unsur kepercayaan dari luar Islam. Seperti animisme dan sebagainyayg dibawa oleh para pengikut yang baru menggabungkan diri dengan salah satu aliran tarekat. Keimanan yang tipis serta pengetahuan syari’at yang tidak memadai menyebabkan ritual yang terdapat dl tarekat bercampur antara ajaran syaruat dengan ritus animistis yang merka warisi dan kepercayaan lama yang mereka tinggalkan. Sifat tarekat yang mengandung unsure pengultusan terhadap syeikh/mursyid menjadi tumbuh subur dan memunculkan sikap pemujaan terhadap wali, kuburan serta benda-benda yang dianggap milik mereka.[3]
Islampun terpecah dalam berbagai ragam ibadat dan pemujaan yang tidak hanyadiekspresikan melalui kata dan perbuatan, tetapi juga melalui benda-benda tertentu. Kepercayaan terhadap hukum alam menjadi berkurang, tertutup oleh kepercayaan kepada kekuatan ghaib yang dpt mempengaruhi kehidupan. Timbullah ketergantungan kepada orang, benda dan sikap tertentu.[4] Dari sinilah tumbuhnya sikap pasif di kalangan umat Islam, dan semakin kuat ketergantungan tersebut semakin tinggi sikap pasif yang ditimbulkannya.[5] Dengan demikian, mulailah muncul sikap fatalis yang diduga oleh berbagai kalangan sebagai salah satu penyebab kemunduran yang terjadi di dunia Islam.[6]
Lembaga pendidikan islam tampaknya tidak mampu mengembangkan cara berfikir yang dinamis, banyak factor yang mjd penyebab lumpuhnya lembaga pendidikan saat itu, yang harus ditinjau dari berbagai aspek. Dua diantaranya adalah aspek metode pengajaran yang diterapkan dan bahan ajar yang kurang melatih daya dan kemampuan berfikir.[7]
Meskipun mulai abad keenam belas masehi umat Islam berhasil membangun kembali kekuatannya di bidang politik. Namun mereka tidak mampu mengangkat kejatuhannya di bidang intelektual. Perkembangan ilmu pengetahuan dan kekuatan politik yang tidak seimbang menghancurkan kekuatan politik yang ada dan menjadikan salah satu penyebab jatuhnya kekuatan politik Islam kebawah pengaruh kultur barat.
Seiring dengan penjarahan barat ke dunia Islam, masuklah kebudayaan barat yang sekuler ke dunia Islam, dan umat Isla pun mulai berkenalan dengan kebudayaan barat dan hasil-hasil teknologi yang ereka ciptakan. Kebudayaan yang baru itu tidak saja membawa pengaruh ke dalam bidang politik, tetapi juga ke dalam soal-soal keagamaan. Timbullah problem baru yang menjadi tantangan di dunia Isla, dan umat Islam pun mulai mempetanyakan sikap agama mereka dalam menghadapi tantangan yang demikian.
Jika sebelumnya umat Islam dihadapkan pada masalah kemunduran intelektual dan sikap fatalistic, maka dengan munculnya masalah yang demikian, umat Islam dihadapkan pada dua masalah pokok, pengaruh kebudayaan barat di satu pihak, dan kemunduran intelektual dan sikap hidup yang fatalistic di pihak lain. Sadar akan tantangan yang demikian di beberapa bagian dunia Islam tampil para tokoh dan pemikir membawa seperangkat pemikirannya baik dalam bentuk tulisan maupun melalui karya nyata sebagai jawaban terhadap tantangan yang mereka hadapi. Merekalah yang disebut dengan kaum pembaharu yang kebangkitan mereka tidak hanya untuk menentang pengaruh barat, tetapi juga dengan himbauan untuk kembali kepada dasar-dasar pokok Islam.[8] Diantara mereka adalah : Muhamad Abduh, Muhammad Ali, Rifaah Al Thohtowi, Thoha Husein dan lainnya.

II.          PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PARA PEMBAHARU DI MESIR
Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di permukaan bumi. Pendidikan kendatipun segala-galanya, tetapi tetap dipercaya sebagai factor pembangun yang penting dan strategis. Begitu pula ketika orang mulai berbicara peningkatan SDM, pendidikan kembali menjadi salah satu tumpuan harapan, pendidikan juga sebagai upaya manusia untuk mengembangkan ilmu bagi kesejahteraan umat manusia. Bertitik pangkal dari hal itu, pendidikan sangat dianjurkan oleh Islam.
Bahkan salah satu ciri yang membedakan pendidikan Islam dengan yang lainnya adalah pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan.
Al-qur’an dan sunnah mengajak umat Islam untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan. Serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Dalam hal tersebut Mahdi Husaini mengatakan : “kata ilmu dan kata-kata jadiannya digunakan oleh Al-Qur’an lebih dari 780 kali”.[9]
1.      Muhammad Abduh (1849-1905 M)
Bila kita mengamati hubungan antara Muhammad Abduh dengan Jamaluddin Al Afgani dari awal pertemuan mereka di Mesir hingga di Perancis, tampak gerakan pemikiran yang dilancarkan keduanya satu tujuan. Keduanya dinilai oleh al farouqi sebagai reformer yang berani.[10] Diantara seruan mereka, menurut ahmad amir adalah membuka kembali pintu ijtihad dan menghendaki kembali Pan Islamisme.[11] Tetapi keduanya memiliki perbedaan dalam menempuh kesepakatan seruan-seruannya.
Nur Cholis Madjid mengungkapkan :
Seperti hanya dengan Al Afghani, Abduh melihat bahwa salah satu sebab keterbelakangan umat Islam yang sangat memprihatinkan adalah hilangknya tradisi intelektual. Yang intinya adalah kebebasan berfikir. Tetapi berbeda dengan Al Afghani, Muhammad Abduh melihat pendidikan dan keilmuan lebih menentukan dari pada politik. Karena itu, terutema keterlibatannya dalam pemberontakan Urabi pasca, Abduh kemudian memilih mencurahkan perhatiannya kepada reformasi intelektual dan pendidikan.[12]
Senada dengan pendapat tersebut,  Hamka mengatakan bahwa menurut pikiran Muhammad Abduh, walaupun berhasil dalam perjuangan politik, belulah terjamin teguhnya Islam kalau umat masih jahil akan hakekat agamanya.[13]
Pendapat yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh C. A. Qodir :
Muhammad Abduh tidak sependapat dengan Al Afghani mengenai “Jihad”, ia tidak menyetujui gagasan mengorganisasikan suatu pemberontakan atas nama jihad untuk mengusir kaum imperialis yang telah menduduki Negara-negara Islam. Ia pun menghendaki agar kaum Iperialis angkat kaki, sebab mereka bertanggungjawab atas ketergantungan umat Islam, tetapi cara yang dianjurkannya untuk mengusir mereka bukan dengan cara jihad, melainkan sikap berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam.[14]
Al Bahiy menyebutkan, ada dua keungkinan yang menyebabkan Muhamad Abduh terjun di bidang keagamaan dan keilmuan, yaitu : sedikitnya aktifitas politik kebangsaan yang menrjuni biang keilmuan dan keagamaan ketika itu dan pertemuan dengan Arabi dan teman-temannya tentang sistem perjuangan.[15]
Nasution memperkuat pendapat-pendapat di atas dengan ungkapannya :
Muhammad Abduh adalah seorang pembaharu yang lebih banyak menekankan perhatiannya dalam bidang pendidikan, ia berusaha keras melakukan proses penyadaran intelektual. Baginya, pendidikan merupakan lmbaga paling strategis untuk melakukan perubahan sosial secara sistematik. Ini tidak berarti Muhammad Abduh mengecilkan peranan lembaga politik, meskipun strategis namun jaringan persoalannya lebih kompleks. Bila ia mendayagunakan saluran politik dalam upaya memasyarakatkan idde-idde pembaharuannya, ia bukan saja harus berhadapan dengan kekuatan sistem politik dalam negri yang masih otokratik, melainkan juga harus berhadapan dengan kekuatan kolonialisme politik asing. Karenanya, keudian ia memilih lembaga pendidikan.[16]
Dengan melihat pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Muhamad Abduh menekankan pembaharuannya di bidang pendidikan, karena pembaharuan melalui bidang politik jaringan persoalannya sangat kompleks dan harus berhadapan dengan kekuatan yang otokratik dan pemerintahan imperialis (ketika itu Inggris) serta aktifitas kebangsaan yang terjun di jalur pendidikan, keilmuan dan keamanan sangat sedikit. Di samping itu, keberhasilan perjuangan di bidang politik belum menjamin keberlangsungan Islam manakala umat Isla masih jahil akan hakekat agamanya.
Pendidikan menurut Abduh adalah :
sarana perubahan. Pendidikan dapat mengubah tradisi moral dan pandangan masyarakat. Pendidikan mampu mengubah bangsa. Pendidikan adalah undang-undang yang dapat memperbaiki bangsa.[17]
Abduh berpendapat :
Pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang didasarkan atas ajaran-ajaran Islam. Pendidikan dapat memperlemah jiwa individualisme dan sparatisme. Sebenarnya yang paling dominant sekarang ini adalah kemajuan intelektual dan pemikiran. Bangsa yang luas pemikirannya dan menguasai bidang imu pengetahuan akan kuat dan berkuasa serta menguasai bangsa-bangsa lainnya.[18]
Abduh juga Berpendapat :
Syari’at Islam tidak mengharamkan sarana ilmu pengetahuan yang utama, selama tidak embahayakan agama baik dari segi akidah maupun muamalah.[19]
Mauhamad Abduh Mengatakan lebih lanjut :
Manusia tidaklah dikatakan utuh kecuali dengan pendidikan. Pendidikan disini berarti mengikuti prinsip-prinsip yang dibawa para nabi dan rasul, seperti hukum, ajaran dan kebijaksanaan, yang semuanya mengajarkan manusia untuk cinta pada orang lain agar dapat mencintai dirinya sendiri. Jika seseorang terdidik, maka ia merasa bahagia dengan adanya orang lain bersamanya. Jika kita terdidik, maka akan ada satu perasaan di antara kita. Ketika itu setiap orang akan merasa  dirinya memiliki kewajiban terhadap dirinya da orang lain. Ilu pengetahuan yang sebenarnya mengajarkan kepada manusia hubungan antara dirinya dengan orang lain. Sehingga manusia mengetahui ada satu perasaan dan satu ikatan, itulah persatuan. Setiap orang mampu berperan, dan tidak ada kekurangan di dunia ini kecuali dari segi akal dan moral, itu semua akan sempurna dengan adanya pendidikan.[20]
Ditambahkan Oleh Muhammad Abduh :
Pendidikan mampu memperbaiki kehidupan umat, yaitu dengan pengembangan agama dan ajarannya pada pendidikan tingkat dasar. Ajaran Islam hendaknya sebagai dasar kurikulum sekolah, ditambah dengan ilmu-ilmu dan kecakapan lain lain untuk membekali kehidupan generasi sehingga mereka tidak kalah dengan bangsa barat dalam menghadapi kehidupan ini. Pendidikan harus didasarkan pada agama Islam, sehingga akan timbul jiwa kebersamaan yang mengatasi kepentingan pribadi. Dengan demikian tujuan umat Islam akan terwujud. Yakni kebersamaan dan kejayaan kembali.[21]
Muhammad Abduh Menyimpulkan, dalam hal keterbelakangan umat islam dan materi kajian yang harus diajarkan pada pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
Sebab-sebab keterbelakanga umat Islam adalah adanya kemandekan dl pendidikan agama. Baik dengan melalaikan pendidikan agama maupun dilaksanakan dengan cara yang tidak benar atau dengan materi yang salah.
Sesungguhnya perbaikan kurikulum pengajaran tidak hanya dengan mengajarkan sebagian ilmu-ilmu fiqh di sekolah Islam menurut cara yang diterapkan di masjid-masjid, dengan buku-buku karangan ulama. Ilmu pengetahuan yang tinggi jika tidak didasarkan pada akidah yang benar dan keimanan yang mantap, ai akan rusak. Pandangan harus diarahkan pada hal-hal yang bisa memantapkan akidah dak menguatkan fikiran, kemudian pendidikan yag menguatkan jiwa dan moral. Pengajaran atau pendidikan semua kecakapan itu harus didasarkan kepada syariat Islam yang mulia, diaman sumbernya adalah al-qur’an, sunnah yang shoheh, petuah-petuah para sahabat dan ulama’ salaf yang benar serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka, seperti al Ghazali.[22]
Dalam materi ajar, abduh menyatakan sebagai berikut :
Ilu pengetahuan hendaknya menjadi suatu keahlian untuk bekerja. Sedangkan kecakapan lain yang harus diajarkan adalah sejarah agama, khususnya sejarah hidup rasulullah SAW, para sahabat dan khlafa’ur Rasyidin[23].
Tentang buku-buku karya ulama’ klasik (abad pertengahan) Abduh berkomentar :
Jika kita mengkaji buku-buku abad pertengahan sebelum kemandekan umat Islam, berarti kita melangkah satu langkah untuk memperbaiki buku-buku fiqh. Selama kita terikat pada ungkapan-ungkapan dalam buku mutakhir yang beredar dan memahami agama hanya dari buku itu, berarti kebodohan kita makin bertambah.[24]
Menurut Nurcholis majid, yang pertama tama diusahakan oleh Muhammad Abduh adalah merombak dan mereformasi almamaternya sendiri, yaitu unversitas al-azhar. Hal paling penting dilakukan oleh Abduh adalah memperjuangkan agar para mahasiswa diberi mata kuliah filsafat. Demi menghidupkan kembali dan mengembangkan intelektualisme Islam yang telah padam. Kewajiban belajar tidak hanya mengenai buku-buku klasik berbahasa arab tentang logika atau ilmu kalam dogmatic, tetapi juga berbagai sains modern serta sejarah dan agama eropa agar dapat menetahui sebab-sebab kemajuan mereka.[25]
Deikianlah secara ringkas uraian refleksi pemikiran yang diperjuangkan oleh Muhammad Abduh tentang pengembangan pendidikan Islam untuk kemajuan umat Islam dan dunia Islam pada umumnya.
2.      Muhammad Ali (1769-1849)
Muhammad Ali pada dasarnya merupakan orang yang pertama kali meletakkan landasan kebangkitan modern di mesir. Menurutnya, pendidikan adalah urusan pribadi dan kelompoknya, sedangkan tanggung jawab keamanan, pengawasan terhadap orang-orang yang melanggar batas dan hukum terletak di pundak angkatan bersenjata.
Menurut Husein Muhammad Amin, Pemikiran Muhammad Ali bisa diringkaskan sebagai berikut :
Pertama : membuat kekuatan dengan tangan besi, ilmu pengetahuan dan kekayaan untuk membangun landasan titik tolak bagi kemajuan yang hendak dicapai. Dengan syarat, masyarakat harus siap menerima metode yang dilakukan oleh bangsa lain.
Kedua : masyarakat harus siap membayar campur tangan tersebut.
Ketiga : menciptakan sarana yang dapatmenunjang stabiitas, atau memanfaatkan semua sarana sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat untuk menyongsong perkembangan zaman.[26]
Muhammad Ali adalah tokoh yang mendirikan sekolah-sekolah kejuruan di Mesir. Adapun sekolah-sekolah yang telah didirikannya adalah : Sekolah Penerjemahan Bahasa, Sekolah Kedokteran, Sekolah Militer, Sekolah teknik dan Sekolah Pengobatan.[27]
3.      Rifaah Al Thohthowi (1889-1973)
Rifaah Al Thohtowi termasuk penggagas kebangkitan imiah modern di Mesir. Dia adalah salah seorang dari 40 pemuda Mesir yang dikirim ke Eropa (Prancis) untuk belajar disana. Setelah berada di Perancis, Thohtowi mempelajari bahasa Perancis, membaca buku-buku berbahasa Perancis tentang politik, sosial, sastra, ilmu alam dan strategi peperangan. Jika dia bosan membaca dan belajar dia berjalan-jalan mengamati kondisi sosial di Perancis, sebab-sebab kebangkitan Eropa, Adat Istiadat penduduknya dan metode pendidikannya.
Muhammad Ali melantiknya sebagai penterjemahan di sekolah kedokteran dan sekolah militer di thorroh. Dari sinilah ide thohthowi mendirikan sekolah dan mengajarkan bahsa-bahasa asing. Muhammad Ali setuju dan menugaskan kepasdanya untuk mengatur sekolah itu dan menjadi direkturnya.
Gagasan thohtowi yang lain adalah memberikan pendidikan kepada kaum wanita, yang sudah barang tentu menentang pendapat umu di Mesir. Khususnya dari kalangan tokoh agama.
Menurutnya, anak-anak perempuan harus diajari membaca,, menulis, menghitung dan lain-lain untuk menambah pengetahuan yang ada di otak mereka. Agar mereka dapat bekerja sama dengan laki-laki dalam menyumbangkan pikirannya, dan merasa berbesar hati. Hal ini akan dapat memanfaatkan perempuan pada posisi pekerjaan yang seharusnya dikerjakan laki-laki sebatas dan sesuai dengan kemampunannya. Dengan demikian pengangguran dari kalangan perempuan dapat dikurangi. Kita dapat enjaga mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena sesungguhnya kekosongan pada mereka akan menyibukkan lidah mereka untuk membicarakan hal-hal yang tidak benar dan mengisi hati mereka dengan hawa nafsu.[28]
4.      Thoha Husein (1889-1973)
Thoha Husein dilahirkan di maghoghoh Mesir selatan 1889 M pendidikan pertamanya di Kuttab yang pokok pelajarannya adalah membaca dan menghafal Al-Qur’an. Pada tahun 1902, ia melanjutkan sekolahnya ke Al Azhar, ia sempat menrbitkan surat kabar Al Jaridah pada tahun 1907. yang banyak memuat artikel-artikel untuk pembaharuan sosial dan sastra.
Pada tahun 1912 ia melanjutkan studinya di Universitas mesir (Egypt University), disini ia memperoleh sesuatu yang berharga yang belum pernah ia peroleh selama di al azhar, yaitu pengetahuan tentang metode barat modern untuk meneliti sejarah dan kritik sastra.
Dalam gagasan pembaharuannya, Thoha Husein menginginkan kemajuan sastra arab. Dalam mukaddimah yang ditulisnya pada tahun 1915 untuk penyiaran thesisnya yang pertama fi al adab al hahili ia mengkritik jumudnya pengajaran sastra arab yang bejalan pada hamper semua sekolah / madrasah di Mesir, termasuk al azhar. Mereka yang telah lulus dari ujian sastra arab itu dianggap tidak memperoleh apa-apa.
Yang lebih disesalkan oleh Thoha Husein pada waktu itu (1915) adalah pengajaran di sekolah-sekolah pemerintah yang menggunakan pengantar bahasa asing. Ia juga mengecam pemerintah yang telah banyak mengirim mahasiswa ke Eropa untuk mempelajari banyak ilmu, tetapi tidak mengirim mahasiswa untuk memperdalam pengetahuan sastra.
Menurutnya, bahasa arab adalah warisan mesir dan masa lampau yang harus dipelihara dan dihidupkan. Mesir sebagai satu bangsa harus menjadikan bahasa arab ke seluruh negeri-negeri arab. Supaya sastra arab maju, mesir harus membuat hubungan yang erat dengan kehidupan ilmiah dan sastra Eropa.
Ketika ia diangkat menjadi mentri pada Departemen Pendidikan di Mesir, program pokoknya adalah memberantas buta huruf dan memperbanyak jumlah sekolah serta memperbaiki kurikulum. Ia membangun 2600 kelas dan menghapus biaya pendidikan untuk sekolah menengah.[29]
Thoha Husein berpendapat bahwa agama Isla agar diajarkan di sekolag untuk anak-anak Islam, begitu pula agama Kristen untuk anak-anak Kristen. Ia menekankan agar Al-quran`an, al sunnah, dan sirah al khulafa’ yang lebih dipelajari dan dipahami dengan benar. Keudian supaya diusahakan agar yang memahami dengan benar ini enjadi banyak jumlahnya, dan pemahaman ini jangan sampai pada otak saja, tetapi harus masuk ke dalam hati. Berpadu dalam jiwa dan tampak manifestasinya dalam perjalanan kehidupan.[30]

III.       IKHTITAM
Sekilas yang dipaparkan di atas merupakan bagian kecil dari sekian banyak pemikiran tentang pendidikan Islam modern di Mesir. Goresan pemikiran itu merupakan hasil renungan dan pengalaman yang dilalui oleh para pakar melalui profesi yang digelutinya. Yaitu kebanyakan dari mereka menjadi pejabat yang mengurusi dan peduli dengan pendidikan. Karena perbedaan masa hidup mereka dalam kurun tiga abad lamanya (abad 18, 19 dan 20), sudah barang tentu segala pemikiran tentang pendidikan dan pengajarannya sudah dikomunikasikan dengan kondisi zaman dan perobahan peradaban yang berlangsung pada masa-masa itu.
Bila kita amati secara detail, maka pemikiran mereka sebenarnya merupakan akumulasi dan refleksi dari pemikiran-pemikiran para tokoh muslim klasik yang kemudian dipoles dan dikemas dengan pikiran orisinilnya berdasar dari pengalaman mereka yang pernah ditimba selama belajar di barat dan diaktualisasikan dengan konteks situasi dan kondisinya.
Dengan berbagai bentuk implementasi, pemikiran-pemikiran tersebut diharapkan akan menjadi selalu actual dan menjadi bahan rujukan yang bernuansa Islami namun memenuhi criteria kekinian yang ditandai dengan semangat akademis.
Secara garis besar kita dapat menggambarkan bahwa konsepsi pendidikan dan pengajaran ideal yang mereka tawarkan merupakan cerminan ikhtiar dari kalangan pakar muslim untuk selalu memberikan frame pada generasi pakar selanjutnya agar tetap mengedepankan nilai Islam dalam setiap inovasi pendidikan.
Dengan demikian dapat diamati bahwa berbagai konsep pendidikan itu mempunyai misi suci dalam kerangka mempersiapkan peserta didik yang siap dengan segala perobahan, perkembangan teknologi dan permintaan public. Maka profesionalisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai normativitas agama yang sacral dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang selalu dekat dan mengharap ridlo dari Allah swt.
Demikian paparan yang mampu penulis kemukakan yang merupakan hasil maksimal yang diambil dari berbagai literature seputar islam dan modernisasi. Sudah barang tentu, yang tersaji ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan input yang konstruktif dan inovatif adalah dambaan penulis dan merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam upaya lebih menajamkan tulisan ini agar menjadi tulisan yang layak baca dan layak secara akademis.

                                                                         

DAFRTAR PUSTAKA


Nurcholis majid, Prof. Dr. Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984
_____________________ , Islam Kemodernan dan keindonesiaan, Mizan, Bandung, 1992
Hamka, Prof. Dr. Said Jamaluddin Al Afghani pelopor Kebangkitan Muslimin, Bulan Bintang, Jakarta, 1982
Harun Nasution, Prof. Dr. Ensiklopedi Islam di Indonesia, Djembatan, Jakarta, 1
_____________________ , Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1985
Subantardjo, Sari Sejarah I, BOPKRI, Yogyakarta, 1961
Abdul Aziz Dahlan, Drs. Thoha Husein sebagai Pembaharu di Mesir, Dalam bulletin Studia Islamika, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1977
Mahdi Ghulsani, Dr. Fisafat Sains Menurut Al-Qur’an, Mizan, Bandung, 1991
Ismail R. Al Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Terj. Anas Muhyidin, Pustaka, Bandung, 1982
Ahmad Amin, Dr. Islam dari Mas Ke Masa, Terj. Muhammad Thohir, Rosda, Bandung, 1987
_____________________ , Zu’ama al ishlah fi al ashr al hadits, Al mahdloh, Mesir, 1979
Muhammad Al Bahiy, Dr., Pemikiran Islam Modern, Terj: Saudi Sa’ad, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986.
Rasyid Ridlo, Tarikh al Iman Muhammad Abduh, Dar al Mansan, Cairo, 1931.
Husain Muhammad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1999.
Thoha Husein, Mir’at al Islam, Dar al Ma’arif, Mesir, 1923
C.A. Qadir, Filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1989
____________________ , Decline in the muslim world, Otto Harrasowitz, Weisbaden, 966
Fazlur Rahman, Islam, University of Chicago Press, Chicago, 1979
Gibb, H.A.R. Muhammadanisme,  Oxford University Press. London. 1953
Hodqson, The Venture Of Islam, The University Of Chicago Press, Chicago, 1974
John L. Eposito, Dinamika Kebangunan Islam, Terj. Bukhori Siregar, Rajawali, Jakarta, 1987.


[1] Nurcholis majid, Prof. Dr. Khazanah Intelektual Islam,hal. 21
[2] Prof. Dr. Harun Nasution, Perkembangan Modern Dalam Islam,  hal. 15
[3] H.A.R. Gibb. Mohammadanisme, Hal. 158
[4] Ahmad Amin, Zu’ama al Ishlah fi al ashr al hadits, Hal. 158
[5] Fazlur Rahman, Islam, hal 159
[6] C.A. Qadir.  Decline in the muslim world , Hal. 1430
[7] Hodqson, The Venture Of Islam, hal. 438
[8] John L. Eposito, Dinamika Kebangunan Islam, hal 17
[9] Dr. Mahdi Ghulsani, Filsafat sains menurut Al-qur’an, hal 41
[10] Ismail R. al farouqi. Islamisasi Pengetahuan. Hal. 45
[11] Dr. Ahad Amin, Islam dari masa ke masa, hal 192
[12] Nurcholis majid, Islam keodernan dan keindonesiaan, Hal  310
[13] Prof. Dr. Hamka, Sayyid Jamaluddin Al Afghani pelopor Kebangkitan Muslimin, hal. 89-90
[14] C.A. Qadir, Filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam, hal 168-169
[15] Muhammad Al Bahiy, Dr., Pemikiran Islam Modern, hal 61
[16] Harun Nasution, Prof. Dr. Ensiklopedi Islam di Indonesia, hal. 7
[17] Rosyid Ridlo, Tarikh Al Imam Muhammad Abduh juz II, hal 469
[18] Ibid, Hal. 144
[19] Ibid, Hal. 501
[20] Ibid, Hal. 469
[21] Ibid, Hal. 149-150
[22] Ibid, Hal. 509-510
[23] Ibid, Hal. 511
[24] Ibid, Hal. 943
[25] Dr. Nurcholis Majid. Lok cit. hal. 311
[26] Husain Muhammad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, hal. 277
[27] Subantardjo, sari sejarah I. Hal. 193
[28] Ibid. hal 281-282
[29] Abdul Aziz Dahlan, Drs. Thoha Husein sebagai Pembaharu di Mesir, hal 53
[30] Thoha Husein, Mir’at al Islam, hal 266.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar